Wednesday, 4 May 2016

Gan, Minta rekomendasi Pemain, Dong!

07:09:00
Sumber Gambar: Skysports






A: Gan, ane punya budjet 20 juta. Bagusnya beli siapa ya?
B: 20 juta mau dihabisin? Nyarinya pemain utama? Search lalu filter seperti ini:







A: Kalau mau nyari posisi yang spesifik?
B: Ya tinggal disortir aja posisinya.






A: Gan, rekomendasi Striker bagus dong.
B: Budjet berapa?
A: 25 juta.
B: Ya sama dengan poin di atas. Tinggal atur current ability dan potential ability aja sesuai selera. Karena standar bagus setiap orang itu beda-beda.












A: Gan, ane mau investasi masa depan. Rekomendasi pemain muda bagus dong.
B: Hampir sama kayak di atas. Bedanya, atur umurnya seminimal mungkin. Batas maksimalnya set jadi 21, karena standar pemain muda menurut saya itu umur 21. Current ability ambil yang paling kecil. Potential ability ambil bintang 3 aja. Ga usah tinggi-tinggi banget.



Kalau udah klik ok, karena di filter barusan current ability-nya minimal cuma sampe bintang setengah, maka atur lagi current abilitynya ke opsi paling rendah (kalau versi bintangnya, ini bintang abu-abu). Kenapa di-set ke opsi paling rendah? Karena pemain muda bintangnya pada abu-abu, kebanyakan. Kecuali ente membahas wonderkid yang atributnya udah dewa kayak Martial, Sterling, dan Draxler.





A: Gan, ane mau beli Messi tapi dia ga mau pindah dari Barca.
B: Ya emang ga bisa kalau gitu. Nunggu doi uzur dulu. Kalau ngebet pengin beli Messi, carilah pemain yang skillnya mendekati dia. Caranya: Profil Messi > Comparison > Find similiar player.
Maka akan muncul tampilan seperti ini.







A: Gan, ane pake klub turki kasta 4, kok waktu ane nyari ga nemu pemain-pemain yang di screenshot agan?
B: Gan, kalo pakai klub papan bawah yang scoutnya pas-pasan, urungkan deh niat beli pemain. Ngontrak gratis aja udah syukur alhamdulillah. Mending nyari yang gratis atau loan.
Begini nih untuk loan.





Kalau nyari pemain gratis, settingnya begini. Berburu pemain gratis sebaiknya lakukan di akhir desember atau awal januari, biar bisa langsung pantau pemain yang kontraknya menyisakan beberapa bulan lagi dan besar kemungkinan tidak akan diperpanjang oleh klubnya.





A: Gan, ane punya duit 5 juta, tapi pengen beli pemain sekelas Messi.
B: Bisa. Duit segitu bisa beli 5 kodi Mbida Messi.


Masih ada pertanyaan lagi? Kalau ada, silakan komen. Nanti kita jawab bersama-sama.

Tuesday, 3 May 2016

Kita adalah Claudio Ranieri

18:06:00

Sumber: Fans Page Premier League


"Claudio Ranieri: Satu-satunya pria yang telah menuntaskan Football Manager di dunia nyata."
Begitulah tweet yang dilayangkan Jake Wightman, atlet asal Inggris beberapa saat setelah Chelsea berhasil menahan imbang Totenham Hotspurs. Hadiah terindah yang diberikan Chelsea tersebut menjadikan Leicester City FC sebagai kampiun Barclays Premier League. 

Sebuah pencapaian luar biasa jika kita tilik di mana Leicester City FC berada di klasemen musim lalu. Leicester City menduduki posisi 14 di akhir musim 2014/2015 setelah di pertengahan musim sempat tersengal keluar dari zona degradasi. Awal musim 2015/2016 adalah lembar baru bagi Leicester City ketika Claudio Ranieri didatangkan ke King Power Stadium.

Claudio Ranieri menitahkan anak asuhnya untuk tidak kebobolan terlalu banyak dan menduduki posisi aman. Setidaknya mampu bertahan di Premier League. Sesimpel itu harapannya. Senada dengan apa yang diharapkan oleh semua manajer baru yang menduduki kursi pelatih klub papan bawah yang untuk bertahan satu musim saja belum tentu mampu.

Pertandingan demi pertandingan dijalani, Leicester City menunjukkan konsistensi yang tak terlalu buruk, mengulang apa yang sempat Southampton tunjukkan satu musim sebelumnya. Semua orang berpikir Leicester akan tumbang di pertengahan musim. Ternyata tidak. Konsistensi yang diikuti oleh buruknya kontestan Premier League lainnya membuat Leicester City menjelma menjadi kandidat terkuat juara Premier League.

Totenham Hotspurs yang diam-diam menguntit dari belakang sempat mengancam peluang Leicester City untuk mencetak sejarah baru. Namun perjuangan Hotspurs usai sudah setelah pada laga semalam mereka gagal memenangkan laga melawan Chelsea.

Pencapaian Claudio Ranieri adalah cerminan dari manajer game Football Manager yang mampu menjuarai liga di musim perdana menggunakan klub papan bawah. Namun jika boleh jujur, apa yang dicapai Ranieri sebenarnya lebih hebat daripada yang dilakukan kebanyakan manajer di game simulasi tersebut. Tidak sedikit dari kita yang gagal menjuarai Premier League di musim perdana. Butuh dua, tiga, hingga empat musim atau bahkan lebih untuk bisa mencapai title juara tersebut.

Yang dilakukan Ranieri tidak beda jauh dengan apa yang kita lakukan. Pemain-pemain yang didatangkan ataupun yang telah lama menjadi bagian skuad The Foxes bukanlah pemain bintang yang didatangkan dengan uang berlimpah. Di dalam skuad yang menorehkan sejarah ini, Leonardo Ulloa yang didatangkan dengan mahar 10 juta pounds dari Brighton and Hove Albion adalah pemain termahal. Ujung tombak yang menjadi andalah, Jamie Vardy malah ditebus dengan harga 1 juta pounds saja. Riyad Mahrez, pemain terbaik Premier League musim ini justru didatangkan dengan dana yang lebih murah lagi. Hanya 400 ribu pounds. Kurang dari satu setengah kali lipat gaji Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Dengan skuad murah tersebut (oh ya, bahkan beberapa nama seperti Marc Albrighton dan Christian Fuchs bahkan didatangkan dengan gratis lho) Ranieri mampu menyulap pemainnya menjadi bintang yang menyilaukan jagad Inggris, bahkan dunia. Siapa Vardy? Siapa Mahrez? Tanyakan pada fans Manchester United, Arsenal, Liverpool, atau bahkan Leicester City sendiri saat tiga tahun lalu. Mereka pasti akan menjawab "Who the hell are they?"

Selain menyulap pemain yang awalnya bukan siapa-siapa, Ranieri juga menghemat uang, entah untuk investasi masa depan, atau memang merasa skuadnya tak butuh peluru baru untuk memborbardir tim-tim di Premier League. Yang jelas, tidak banyak uang yang dihamburkannya ketika menjalani musim ini. Sama seperti yang kia lakukan di Football Manager. Hemat duit. Biasanya yang kita lakukan jika menukangi klub papan bawah, akan kita gunakan uang tersebut untuk membeli regen di musim-musim berikutnya. Bagaimana dengan Ranieri? Bisa jadi dia mengincar pemain-pemain cilik demi investasi masa depan juga.

Pada awalnya, reputasi Leicester City FC hanyalah national. Namun saat ini, saya mengimani semua orang mengakui dan sepakat bahwa reputasi mereka adalah worldwide

Semoga, semoga, dan semoga, Vardy, Kante, Mahrez, dan pilar-pilar Leicester City lainnya tak digembosi klub-klub tajir di musim depan. Kita semua pasti tidak ingin kedigdayaan dan sihir yang ditunjukkan Leicester City hanya berlaku untuk musim ini saja. Kita ingin keajaiban ini berlangsung di masa mendatang hingga anak cucu kita mengetahui bahwa Leicester City adalah raksasa Liga Inggris. Ah, kalau berekspektasi menjadi tim raksasa hingga berpuluh tahun mendatang tampaknya terlalu lebay. Cukuplah saya berharap pria-pria penuh semangat ini tidak hengkang dari skuad The Foxes di musim depan.

Oh, iya, satu lagi, yang saya tunggu-tunggu adalah kepulangan Andrej Kramaric dari Hoffenheim. Biasanya, di Football Manager, kepulangan pemain bertalenta yang menjalani masa pinjaman adalah suatu hal yang ditunggu karena keberadaannya di musim depan akan menjadi bahan bakar baru sekaligus pesaing pemain-pemain hebat yang menaungi skuad di musim ini. Kramaric di Football Manager adalah wujud dari bakat hebat. Semoga di dunia nyata, Football Manager berhasil membuktikan perannya sebagai cenayang kembali.

Tanpa memperdebatkan siapakah yang paling hebat antara manager Football Manager yang memainkan tim papan bawah atau papan atas (jangan ada drama Turki lagi di antara kita), besar harapan saya kepada anda yang belum pernah mencicipi apa yang Ranieri rasakan. Bermainlah di klub semenjana, dan rasakan sensasinya.

Terakhir. Apakah anda tidak merasa bahwa kesuksesan Ranieri ini terbilang hampir mustahil? Saya curiga jika kita semua sebenarnya hidup di dalam savean game Ranieri. Dengan teganya dia load game di setiap kekalahan yang dia temui. Mungkin saja ini yang menjadi rahasia di balik juaranya Leicester City FC. Ranieri menggunakan strategi mujarab: save load. Dan saya, anda, ataupun semua manusia yang saat ini masih mendekam dalam kejombloan, mungkin saja pernah menjalani hubungan asmara. Namun hubungan asmara yang telah berhasil kita dapatkan itu dianulir oleh Ranieri dengan me-load gamenya karena kekalahan yang dia terima. 

Saturday, 16 April 2016

Manfaatkan Pemain Free Transfer

08:22:00
Sumber: Tumblr



Dewasa ini, finansial melimpah merupakan sumber kesuksesan instant di dunia sepakbola. Manchester City dan PSG adalah bukti nyata yang bisa kita sorot dalam beberapa tahun terakhir. Namun penggelontoran dana berlimpah demi mendatangkan pemain kelas atas bukanlah hal yang mutlak dalam membangun skuad bermutu. Leicester City FC musim ini menjadi penampik anggapan demikian. Pemain top Leicester City FC bukanlah pemain yang didatangkan dengan dana besar.

Ada pula cara lain untuk membangun skuad bagus dengan dana sangat minimalis. Penandatanganan kontrak pemain secara gratis adalah solusi dari finansial yang terbatas. Dalam hal ini, perlu kecermatan dalam merekrut pemain. Karena jika ingin memiliki skuad berpondasi para pemain bagus, haruslah kita dapatkan pemain dengan skill mumpuni walau secara gratis.

Beberapa pemain free transfer yang sukses di klub barunya pernah kita saksikan bersama. Robert Lewandowski hengkang ke Bayern Munich bukan karena tidak diinginkan lagi di Dortmund. Atas keinginannya sendiri, Lewandowski menolak penawaran kontrak baru dan dengan beberapa teknik rayuan dari Bayern Munich, akhirnya pemain asal Polandia berusia 27 tahun ini dilepas gratis ke klub juara bertahan Bundesliga tersebut.

Lewandowski adalah contoh pemain gratis yang saat ini sedang dalam masa jaya di umur yang ideal bagi pemain sepakbola. Jika kita menilik pemain gaek yang dilepas gratis namun mampu berjaya di klub barunya, kita harus melihat Andrea Pirlo, sang maestro sepakbola Italy. Pirlo dilepas AC Milan menuju Juventus pada tahun 2011. Fans AC Milan ataupun bukan, sepantasnya kita bersepakat bahwa kepergian Pirlo merupakan titik penurunan performa AC Milan.  Di Juventus, Pirlo berhasil mengangkut empat trofi Seria A, Coppa Italia, dan dua trofi Supercoppa Italiana. Tak hanya itu, ia juga sempat membawa Juventus menjadi runner-up Liga Champions pada musim 2014-2015.

Kepergian pemain secara gratis di usia dini namun mampu menunjukkan kualitas di klub baru tercermin dari sosok Paul Pogba. Kepergiannya dari Manchester United yang tidak memberikan jam bermain yang cukup, dinilai merupakan langkah yang tepat. Kini Pogba menjelma menjadi gelandang muda terbaik di Eropa dan menjadi incaran klub top.

Di Football Manager, penjaringan pemain free transfer merupakan langkah yang ampuh jika anda memiliki dana minim namun berada dalam keadaan yang mengharuskan anda merekrut pemain dengan kualitas cukup baik. Namun perlu diketahui, scouting terhadap pemain yang akan bebas transfer di akhir musim ini kita lakukan ketika jendela transfer pertengahan musim dibuka. Hal ini dilakukan karena di waktu tersebut kita akan tahu pemain-pemain yang kita jaring tersebut adalah pemain yang hampir dipastikan tidak akan melakukan negosiasi perbaharuan kontrak dengan klubnya saat ini. Serta, pada saat ini pula kita bisa langsung menawarkan kontrak agar mereka mau bergabung dengan klub kita di akjir musim.

Cara pertama, anda harus memanfaatkan fitur scouting. Berikut adalah langkah-langkah yang saya kira hampir semua kita sudah tahu, namun masih malas meraba fitur ini.

1. Klik scouting.

2. Klik quick search



3. Klik first team player untuk menjaring pemain dengan kualitas pemain utama. Karena di sini kita akan mencari pemain yang mampu bersaing dengan pilar di skuad utama kita saat ini.



4. Atur umur minimal di angka paling kecil, dan umur maksimal di angka tertinggi. Current ability dan potential ability dapat anda atur sesuai selera.



5. Hasil. Ada beberapa pemain yang terjaring oleh pantauan scout. Jika anda merasa cocok dengan kualitas pemain tersebut, segeralah lakukan negosiasi sebelum ditikung klub lain.




Fitur scouting kadang tidak maksimal. Keterbatasan pengetahuan scout kadang menjadi faktor kurang akuratnya scouting. Biasanya, saya akan melakukan scouting manual. Saya sendiri yang turun tangan memantau pemain-pemain dengan atribut mumpuni yang kontraknya akan habis di akhir musim.

1. Pantaulah liga-liga top di benua yang anda mainkan saat ini. Pada contoh yang saya ambil, saya menggunakan klub Inggris. Jadi saya akan memantau Liga Inggris, Prancis, Spanyol, Italy dan Jerman.

2. Intip satu persatu tim. Gunakan filter contract agar terurut masa habis kontrak si pemain sehingga kita mudah dalam melakukan pemantauan.



3. Cermati satu-satu pemain yang masa transfernya akan habis. Jangan terlalu pedulikan bintang ataupun umur si pemain. Jika anda bermain di tim papan bawah atau tengah, pemain mana pun dengan atribut bagus, akan sangat berguna bagi anda.
Salah satunya, saya menemukan pemain berikut di Leicester City. Tua namun berkelas.





4. Khusus untuk pemain muda. Biasanya klub tidak melepas pemain muda dengan mudah. Kecuali jika pemain muda itu memang tidak pernah mendapatkan jam bermain dan berkeinginan keras untuk mencoba peruntungan di klub lain. Untuk itu anda harus bersabar dan tekun dalam proses merayu si pemain. Caranya adalah dengan menambahkan si pemain ke shortlist agar anda mendapatkan info terkini dari si pemain. Kemudian declare interest agar si pemain sadar bahwa dirinya saat ini sedang dilirik klub anda.





Memanfaatkan pemain free transfer adalah hal yang wajib saya lakukan jika bermain menggunakan klub yang bukan unggulan juara liga. Saya melakukan hal ini bahkan hingga 3-4 musim. Loan pemain juga menjadi alternatif lain. Yang penting, jika anda bermain Football Manager, anda harus cermat, jeli, dan membidik keuntungan sebesar mungkin.








Share artikel ini jika bermanfaat. Like Fanspage serta follow akun Twitter untuk mendapatkan update terbaru. Dan komen jika anda memiliki usulan topik yang akan kita bahas di artikel-artikel berikutnya.

Friday, 15 April 2016

Menyeruput Kopi Bernama Football Manager

07:06:00

Bermain game selama ini terkesan selalu negatif. Dengan segala cemoohnya, game dianggap memberikan aura negatif. Banyaknya gamer yang lupa waktu dari kewajiban di dunia nyata, dengan penampilan urakan, menjadikan citra gamer semakin buruk, khususnya di Indonesia. Namun hal berbeda saya temui di komunitas Football Manager Indonesia.

Pertama kali saya bergabung di komunitas ini ketika Football Manager 2014 rilis. Ya, saya adalah pecandu baru dalam game ini. Kompleksnya sisi permainan, dan interaksinya yang menurut saya hampir nyata, membuat saya semakin kecanduan. Hal lainnnya yang membuat saya semakin jatuh cinta adalah, karena game ini berpatokan pada dunia nyata. Topik pembahasannya adalah tentang si A yang didunia nyata bisa seperti ini, ada lagi tentang Team B yang seperti itu, Team C yang memenangi ini, Team D yang menggunakan taktik ini, dan masih banyak lagi pembahasan di dunia nyata yang dijadikan acuan untuk bermain game ini. Sebut saja yang sering dibahas adalah masalah “taktik”, bagaimana memposisikan taktik A pada klub B, taktik A pada klub C, dan sebagainya.

Saya tergila-gila dengan simulasi Football Manager yang mendekati kenyataan, seolah-olah saya menjadi bagian dari Klub idola saya: memainkan para pemain idola saya, mengatur keuangan Klub idola, dan banyak lagi. Menikmati selebrasi ketika Klub yang dimainkan memenangi tropi. Menjadi bagian dari orang-orang yang tidur sambil tersenyum karena terbayang sukses membina pemain muda yang dibeli gratis, dan menjadi top skor liga. Ya, kenikmatan Football Manager yang berlebihan memang.

Tapi, kenikmatan di atas tidak berlangsung lama, setelah masuknya Football Manager 15. Saya merasa kurang nyaman dengan komunitas ini. banyaknya pertanyaan aneh menjadi faktornya. Misalnya postingan minta taktik, minta rekomendasi youngster, minta rekomendasi klub, dll. Seharusnya, Football Manager menjadikan kita semakin dekat dengan sepakbola dan segala pernak perniknya. Seharusnya Football Manager menjadikan kita semakin kenal dengan para pemain dan klub idola kita. Seharusnya Football Manager menjadikan kita paham dengan peraturan persepakbolaan dunia luar sana. Tapi, yang terjadi sungguh sebaliknya, minimnya pembahasan, dan semakin banyaknya “budaya nyontek”, menjadikan Football Manager terasa hambar. Tidak ada lagi utak-atik taktik. Tidak ada lagi pembahasan posisi. Tidak ada lagi pembahasan sejarah,. Yang ada kini hanya tanya jawab, tanpa pembahasan lagi, ini seperti soal pilihan ganda, tanpa ada penjelasan seperti essay. Kalaupun ada, itu hanya terjadi di kalangan sesepuh komunitas, yang berbicara tentang analisa, berbicara tentang sejarah dan lainnya. 

Seharusnya Football Manager mampu menciptakan obrolan yang berkualitas. Seharusnya Football Manager mampu melahirkan argumen, taktis, ide, bukan sekedar jual beli A dan B. Ya, kenikmatan kopi mulai berkurang. dibarengi dengan masuknya kopi-kopi KW murahan, yang mengutamakan harga murah. Sehingga para manager yang haus dengan kopi original semakin sedikit. Walaupun pahit dan mahal, tapi tetap kopi original mampu memberikan cita rasa dan sensasi lebih kuat.

Salam FM.


Sumber gambar: Pinterest



Tulisan dari Aroundus Livelife

Thursday, 14 April 2016

Menjajah Belanda Bab 3: Tropi Perdana

21:59:00



Aku memulai karir di Belanda dengan penampilan yang cukup meyakinkan. 9 pertandingan pertama, kami meraih 7 kemenangan dan 2 hasil imbang. Tidak ada kekalahan. Dan aku tahu, suporter menyukai itu. Tidak mudah untuk mendapatkan hasil fantastis itu. SC Heerenveen bukanlah klub dengan DNA juara. Dan klub ini belum pernah sekali pun meraih title juara Eredivise. Tentu saja itu sedikit meringankan pekerjaan aku, karena aku tidak dituntut untuk finish di zona UCL. Namun, aku harus katakan penampilan kami hebat. Dukungan dari suporter yang luar biasa, kerjasama staf yang solid, dan kepercayaan pemain pada kebijakan aku. Ditambah lagi, kami tidak banyak melakukan transfer, dan pemain yang kami datangkan ini mampu berkontribusi dengan baik.

Hasil yang sangat tidak dapat dipercaya muncul ketika kami menampar PSV Eindhoven dengan skor telak. 7-0. Dan aku mencoba untuk menampar pipi aku. Aku tidak bermimpi. Kami mengalahkan raksasa.


Klub raksasa lainnya, Ajax Amsterdam, adalah juara bertahan. Musim ini, mereka masih menjadi momok menakutkan bagi seluruh partisipan Eredivise. Mereka membuntuti kami di posisi 2. Mereka punya aset bagus. Pemain-pemain muda seperti Daley Sinkgraven, yang pernah menimba ilmu di Heerenveen sebelum kedatangan aku, adalah pemain berbakat. Ada juga Viktor Fischer yang suka menyisir sisi kiri secara menakjubkan. Dan, yang paling fantastis, pemain Ajax yang kami pinjam di musim ini, Lerin Duarte. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain, Fantastis.

Kami berhasil membuktikan bahwa kami merupakan salah satu kandidat juara musim ini setelah mengalahkan Ajax dengan skor 2-1. Lerin Duarte menyumbang 1 gol ke gawang klub induknya melalui gol cepat di menit 8. Ini merupakan pembuktian bahwa dia layak kembali dengan sambutan yang pantas. Namun aku berharap dia tetap tinggal di sini. Aku suka permainannya.

Pembelian tersukses kami pada musim pertama aku melatih adalah Diego Assis. Pemain 27 tahun itu kami boyong dari IFK Mariehamn yang berpartisipasi di liga Finlandia dengan harga 90K. Sangat murah, namun kualitasnya tidak murahan. Dia bermain sangat bagus dan menjadi pemain andalan di sini. Suatu pagi, asisten aku, Jansen, memberikan koran pada aku. Aku membaca pada satu halaman tentang opini wartawan terhadap penampilan Diego. "First-cl-Assis," katanya. Keren. Dan ketika aku melihat sejarah tentang dirinya, ternyata sebelum bermain di Finlandia, dia juga bermain di Swedia. Uniknya, klub yang dibelanya itu bernama Assi. Mirip dengan namanya. Sepertinya dia suka yang berhubungan dengan ASI.


Romario memiliki nasib yang berbeda. Dia hanya bermain 12 kali dalam 2 tahun berkarir di sini. Dia muda. Awalnya aku mengira dia memiliki potensi bagus. Ternyata tidak. Jadi, kami lepas dia di musim ketiga aku melatih. Karirnya di klub lain tidak terlalu cemerlang. Biasa saja.
Kami berhasil menjuarai Eredivise musim 14/15. Aku membuat sejarah baru. SC Heerenveen berhasil mencatat namanya dalam sejarah. Ini title Eredivise pertama kami, dan kami bangga dengan pencapaian ini.

Pemain yang paling menarik perhatian aku adalah Mark Uth. Dia adalah mesin gol kami. Memphis Depay adalah striker muda yang haus gol, dan Mark berhasil menyainginya. Mereka membuat gol dengan jumlah yang sama. Namun Mark unggul karena bermain dengan menit yang lebih sedikit.
Mark adalah seorang Jerman yang tenang. Dia selalu menghadapi masalah dengan kepala dingin. Di tengah lapangan, dia adalah sosok yang memiliki ambisi tinggi. Itu penting. Dan ambisi itu yang membawanya menjadi topskorer.


Musim selanjutnya, kami akan bermain di UCL. Kami tidak mematok target, namun kami akan berusaha sebaik-baiknya. Kami memiliki skuad muda yang hebat. Gejolak muda bisa membuat kejutan yang tak terduga.





Monday, 8 June 2015

Trik Ngetroll Pemain Jual Mahal

13:05:00


saya sudah mencobanya ke beberapa pemain. dan, sepertinya trik ini juga sudah agan pakai. ya, sekadar info buat yang belum tau. trik ini cocok dipakai kalo ada pemain bagus dari klub kecil dan diminati beberapa klub top. misalnya agan mau beli pemain dari suatu klub, harga udah deal, dan selanjutnya adalah memasuki perundingan kontrak.


dalam kasus saya, si pemain ini, yang lebih gampangnya kita sebut saja mawar, meminta kontrak perminggu sebesar 70k pounds. jumlah gajinya jauh di atas gaji dia di klubnya. dia dan si agen bener2 tau manfaatin situasi. diminati banyak klub, berarti kesempatan bagus untuk menaikkan standar gajinya.

okelah. Karena nih si mawar jg diincar klub lain, saya terima aja. ok, deal.

beberapa hari sesudahnya, doi udah bersiap2 kemasin barang ke belanda (klub saya). waktu konfirmasi kesepakatan akhir, pilih no, alias transfernya dicancel.
nah, setelah itu coba cek wanting listnya. biasanya jumlah peminatnya berkurang, ato bahkan ngilang.
di saat itu ulangi lagi. berikan tawaran lagi. dan hasilnya, si doi cuma minta gaji 25k per minggu kali ini. jumlahnya berkurang 3 kali lipat.. 
pacman emoticon

mungkin dia mikir "wah ini gara2 gue jual mahal makanya pelanggan kemaren pada kabur. ah, udahlah, terima aja tawaran si om ini."

Dan sekarang dia udah didatangkan ke klub saya.

logika lebih gampangnya lagi: misal ada seorang wanita cantik, berstatus perawan kembang tujuh rupa. dia diminati 5 orang pria. kelima pria itu secara berturut2 menawarkan cincin kawin dengan material sbb: kayu, kapur, aluminium, batu giok, dan emas.

tapi, si wanita ini nggak mau nerima kelimanya. dia mintanya intan. dalam anggapannya, cowo2 itu pasti bakal mau nawarin intan demi dapetin dia. ternyata enggak, semua kompetitor mundur.
dan, pada akhirnya dia membuka hatinya kembali dan mau ditawari emas.

Dalam kasus ini, sayalah si pria pemilik emas yang berhasil mendapatkan hati si wanita kembang ini..


NB: Trik ini tidak selamanya berhasil. Kadang kalo agennya resek, ketika offer kontrak kedua, agennya ga mau. Agen ngambek gini emang kampret dah.

Wednesday, 3 June 2015

Menjajah Belanda Bab 2: Skuad muda yang berkobar.

18:14:00
Eredivisie bukanlah BPL, ataupun liga BBVA yang bisa dengan mudahnya menggelontorkan uang untuk merekrut pemain. Rata-rata, klub tidak memfoya-foyakan uang untuk merekrut pemain asing yang mahal. Mereka lebih mengandalkan pemain akademi ataupun pinjaman dari klub top di liga lain. Kami sendiri juga bukan klub kaya. Kami punya 4 juta poundsterling untuk memperkuat skuad musim ini. Dan aku harus bisa menggunakannya dengan bijak.

Kami punya skuad yang hebat, namun bukan yang terhebat jika eredivisie mempunyai Ajax, PSV, dan Feyenoord. Liga ini sungguh ketat, semua klub bersaing. Namun kita tahu ada raja dan pesaing di suatu liga, dan kami tahu saat ini kami tidak termasuk ke dalamnya. Targetku adalah membawa SC Heerenveen menuju kompetisi eropa. Kebijakan transfer yang benar adalah penentu nasib kami.

Siang, ketika aku menghabiskan secangkir espresso di ruang kerja, Jansen, sang asisten, datang menemuiku. Dia membawa yang berlainan denganku.

"Selamat siang, Andra." Ia menyapa dengan wajahnya yang bersemangat.

"Silakan duduk, My Brother."

Jansen membawa daftar nama pemain di tangannya. Dia duduk lalu menatapku kembali. "Menurutku kita tidak harus menambah banyak pemain untuk musim ini. Skuad kita sudah cukup mumpuni."

Aku meragukan pendapatnya, namun dengan hormat kutanyakan apa yang menjadi dasar pernyataannya tersebut. "Bagaimana caramu menjelaskannya padaku?"

"Lihat pemain-pemain kita. Mereka memiliki kemampuan yang bagus, aku yakin itu. Hanya saja musim lalu kita tidak beruntung karena bukan berada pada tangan yang tepat," tukasnya.

Aku memperhatikan daftar nama itu berulang-ulang.

Mark Uth. Saat latihan, kulihat dia adalah tipe poacher yang baik. Dia pencari posisi yang hebat dan aku suka gayanya untuk mengambil peran di taktikku. Luciano Slagveer dan pinjaman dari Ajax, Lerin Duarte, mereka adalah sayap yang memiliki insting dan kecepatan yang bisa diharapkan. Di tengah kami punya Van Den Berg dan Martin De Roon, keduanya mampu menguasai area tengah dengan bagus. Kenny Otigba dan Pele Van Anholt adalah pemain bertahan yang bagus. Setelah mencermati komposisi skuad, menurutku kami tidak butuh banyak tambahan. Namun yang kuyakini adalah kami sangat membutuhkan amunisi baru di area pertahanan. Kami sangat kekurangan di area ini. Sangat.

"Jansen, berikan daftar posisi yang kuinginkan ini pada Chief Scout kita, Karel Brandsma. Kuharap dia bisa membantuku untuk melengkapi skuad kita secepat mungkin."
Posisi yang paling kami butuhkan adalah center back dan left back. Dan kami harus segera mendapatkannya.

Beberapa hari kemudian, Jansen kembali kepadaku membawa nama dua orang pemain. Ricardinho yang berstatus bebas transfer dan Alan Costa yang saat ini memperkuat Internacional. Setelah mendengarkan penuturan para staff, kami memutuskan untuk merekrut dua nama itu. Alan Costa mendarat di Heerenveen dengan harga 105k Pounds.

Beberapa hari berikutnya seorang agen mendatangiku. Dia menawarkan pemainnya yang bermain di liga finlandia. Aku pun mempertimbangkannya dan melihat dia bermain. Diego Assis cukup baik untuk memenangkan hatiku. Gelandang serang asal brazil itu akhirnya kami dapatkan dengan harga 90k pounds.

Dari total transfer budget 4 juta, aku cukup berhemat untuk memanfaatkannya. Dan, transfer termahal yang kulakukan musim itu adalah menebus pemain muda potential Hachim Mastour dari AC Milan seharga 1.3M Pounds. Sebuah taruhan yang berbahaya.

Tidak banyak tenaga baru musim ini. Kami harus berhemat, namun di lain sisi aku cukup was-was untuk menghadapi kompetisi musim ini.

Di suatu sore ketika latihan usai, suasana terasa berbeda dari latihan sebelumnya.Wajah para pemain lebih serius. Nyala mata mereka terasa silau. Yah, sepertinya anak-anak muda ini sudah tidak sabar menjajal musim baru.

"Bos, kau yakin menargetkan zona eropa?" tanya seorang pemuda yang penuh semangat, Simon Thern.

"Jika targetku hanya bermain-main di papan tengah, lebih baik aku pulang kampung saja," jawabku tersenyum.

Di sampingnya ada sang kapten, Marten De Roon, yang usianya masih tergolong muda untuk menyandang ban kapten. "Kau setuju, kan, kapten?"

"Ya, Bos."

Latihan telah berjalan, dan beberapa minggu ke depan kami akan menghadapi serangkaian pertandingan uji coba. Aku sangat menantikan sepak terjang tim yang diisi pemain-pemain muda ini.



Skuad musim perdana kami. Mereka adalah pemain ambisius. Luar biasa.



Transfer musim ini. Kamu mengambil resiko ketika memboyong Mastour dengan harga tinggi untuk pemain seusianya.


Lambang klub yang selalu kami junjung tinggi. Sedikit mirip logo frisian flag