Monday, 1 June 2015

Menjajah Belanda Bab 1: Heerenveen dan Awal perjalanan.

Kota Heerenveen. Begitulah ucapan pertama yang terlontar dari mulutku ketika memasuki kota ini sesaat setelah meninggalkan bandara. Perjalanan yang melelahkan selama 14 jam dari Indonesia ke Belanda. Huh.

Aku tidak akan sampai di kota ini kalau bukan karena Johnny Jansen. Dia adalah seorang teman lama, sekaligus asistant manager SC Heerenveen. Klub kebanggaan kota Heerenveen yang akan kutangani mulai saat ini.

Mungkin kalian akan bertanya padaku bagaimana bisa seorang Indonesia mengenal seorang Belanda dan akhirnya bisa melatih klub eropa? hm, ceritanya cukup panjang namun aku akan mempersingkatnya agar kalian tidak memutuskan untuk mengklik sudut kanan atas layar monitor kalian.

Setelah pensiun sebagai pemain sepakbola, aku memutuskan untuk berlibur di rumah saudaraku, tepatnya di Belgia. Ya, dia hidup di sana dan bekerja di sana, lalu aku menghabiskan waktu satu tahun tinggal bersamanya. Selama di sana aku sering mengunjungi tempat latihan tim junior lokal di kota tempatku tinggal. Kadang-kadang aku memberikan beberapa saran untuk sang pelatih, Johnny Jansen. Sejak saat itu kami mulai berteman. Pria berkening lebar itu sempat mengajakku untuk bergabung bersama staffnya, namun aku menolak karena itu terlalu mengikatku. Ayolah, aku ke luar negeri untuk berlibur, bukan untuk kembali menyelami sepak bola secara penuh.

Satu bulan yang lalu, ketika aku masih menjadi pelatih Semen Padang U21, aku mendapat telepon dari Jansen. Dan, dia mengatakan bahwa klub tempat dia bekerja saat ini tertarik untuk merekrutku. Aku sedikit berpikir, kemampuan hebat manakah yang membuatku bisa membuat mereka tertarik. Seingatku aku hanya membawa Semen Padang U21 menduduki juara musim lalu. Lainnya, aku sempat ditunjuk untuk mendampingi Indonesia di Danone Cup. Kupikir itu hanyalah prestasi remeh. Ow, aku yakin ini pasti gara-gara Jansen terlalu memujiku di depan direksi klub itu.

Apapun itu, tak masalah. Di sinilah aku berdiri sekarang.

Well, aku mendapat sambutan hangat di sini. Para petinggi klub yang menaruh harapan agar aku mampu membawa klub menempati papan atas. Lalu, pemain yang penuh semangat dan bertalenta. Aku suka mereka. Terutama seorang pria yang bernama Mark Uth. Orang Jerman ini mengatakan dia akan menjadi mesin gol terbaikku untuk musim pertamaku. Semangat yang bagus dan aku menghargainya. Namun aku bukan orang yang ingin sekadar menjadi peramai kompetisi. Aku di sini dibayar untuk menang dan memoles mental juara kepada pemain.

Musim baru akan segera tiba. Banyak badai yang akan bermunculan. Dan akulah sang peselancar yang akan menaklukkan mereka.


Siang ketika baru saja tiba di kota Heerenveen. Kota yang damai dan tentram.


Menjadi manajer SC Heerenveen, suatu kehormatan besar.

Mr. Sande yang selalu berbaik hati.

Stadion yang 'wah', dengan supporter yang selalu berkobar.

Mark Uth, salah seorang pemain yang menarik.

Malam pertama di Heerenveen. Tenang dan Damai.

, , , , , ,

8 comments:

  1. wow.. ._. kalo ini beneran sugooiii bang, semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini kan cerita yang diambil dari game. tapi dikemas kayak otobiografi. haha..
      nantikan bab selanjutnya

      Delete
  2. Replies
    1. thanks brader. ditunggu bab 2nya ya

      Delete
  3. njirr dari danone cup menuju eredivisi belanda... hehehe
    gw sempet kecanduan game ini dulu haha.. maen pertama dari fm2005 jaman masih SD SMP wkwkkw..
    trakhir maen fm13..
    lebih asik maen pake klub yg cupu dulu bro.. apalagi kalo dari divisi yg paling bawahh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg danone cup dan semen padang U21 itu sebenarnya ga ada. Cuma ditambahin aja biar logis dan nyambung bisa ngelatih heerenveen. hehe
      gw mulai main FM 13. wktu maren pernah maen pake tamworth dari divisi 7 inggris. udah nyampe divisi 3 euy. tapi save-annya ilang.

      Delete